Kontribusi Berita dan Konten

Anda dapat mengirimkan konten ataupun berita yang ingin anda tayangkan di situs PPHP. Berita ataupun konten yang anda kirimkan akan kami periksa terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Silahkan login melalui form di bawah ini atau registrasi jika belum menjadi anggota dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.


belum menjadi anggota? daftar disini
×

Registrasi User

Silahkan isi form di bawah ini dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.

×

Aturan persetujuan pengiriman konten

Pengunjung yang terhormat, Pengiriman berita/konten ke situs PPHP diharapkan dan diharuskan memenuhi persetujuan yang ada seperti dibawah ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan juga untuk menjaga keakuratan data yang nantinya akan tersimpan di situs ini. Adapun beberapa point yang harus diperhatikan antara lain:

Saya setuju, lanjutkan ke pendaftaran atau login

×
Home  » Kisah Sukses

Mencicipi manisnya usaha gula merah tebu

Wajah “sumringah” terpancar dari ibu-ibu petani Banjarsari Kecamatan Bandar Kedung Mulya Jombang, lantaran dapurnya kini makin “ngebul”. Kebutuhan rumah tangga tercukupi salah satunya dengan hasil penjualan dari gula merah yang diolah dari tebu. Ekspresi ceria wajah ibu-ibu Banjarsari ini tidak dijumpai pada 4 tahun yang lalu, betapa waktu itu hasil panen tebu kurang menopang kehidupan petani Banjarsari bukan sebab gagal panen tetapi justru melimpahnya hasil panenan yang tidak sepenuhnya terserap oleh pabrik gula. Pabrik gula menghendaki pasokan tebu dari petani harus memiliki kualitas premium dan seragam ukuran serta umur panen. Keseragaman spesifikasi inilah belum bisa dipenuhi oleh para petani tebu rata-rata hanya 40% yang diserap pabrik.

Berkat kerja keras “Para Bapak” yang dimotori Haji Basarudin sejak akhir tahun 2006 mengolah tebu hasil panennya menjadi gula merah. Gula merah yang dihasilkan kelompok banjarsari ini memang tidak seistimewa gula merah jawa (baca: gula aren), namun ternyata masih memiliki segmen pasar tersendiri. Pasar tradisional di Lumajang dan Malang menjadi tujuan utama pemasaran gula merah Banjarsari. “Namun awalnya menjajakan gula merah tebu tidak semanis rasanya, sebagian besar masyarakat belum bisa menerima lantaran masih mengandalkan gula jawa”, kenang Basarudin.   Hal senada juga diceritakan Poniman salah satu pengurus kelompok tani Banjarsari yang waktu itu gula merah jajakannya dikembalikan semua karena tidak ada yang mau membeli. Seiring berjalannya waktu kesabaran dan kegigihan itu membuahkan hasil, gula merah tebu miliknya menjadi pilihan paling rasional perajin dodol lantaran makin mahalnya gula jawa.

Mahalnya gula jawa membuat para perajin dodol dan kue rumahan mensubstitusi pemanis makanannya dari gula jawa murni dengan gula merah tebu. Adanya disparitas harga gula merah jawa yang tembus hingga Rp. 12.000,- dan gula merah tebu hanya Rp. 5.000,- makin mendorong Haji Basarudin dan teman-teman tetap optimis menggeluti bisnis rumahan ini.

Teknologi olahan gula merah tebu sama dengan gula merah jawa dan tidak secanggih pembuatan gula pasir yang membutuhkan peralatan dan investasi besar. Bermodal dari “ajaran” turun temurun yang diwariskan oleh orang tua, mereka “tlaten” meneruskan usaha gula merah tebu itu dengan caranya sendiri. Dimulai dari prose penggilingan tebu dihasilkan air nira yang kemudian ditampung dan disaring dalam suatu wadah. Nira yang telah disaring ini selanjutnya dimasak dalam wajan besar sampai berubah warna kecoklatan dan agak kental baru dipindahkan ke wadah yang terbuat dari kayu dan terus diaduk-aduk hingga akhirnya dituang dalam cetakan batok kelapa. Adonan nira kental dicetak dalam batok setelah dingin baru bisa membentuk padatan gula merah seukuran batok kelapa yang siap dikemas. Gula merah yang telah diambil dari cetakan ditata rapi dalam kantung plastik transparan ukuran 25 kg selanjutnya siap dijajakan ke pasar tradisional.

Usaha industri mikro kecil gula merah ternyata memiliki keunikan, skala usaha kecil tetapi masih bisa bertahan di tengah hiruk pikuk persaingan usaha. Potensi kearifan lokal ini akhirnya meyakinkan pemerintah setempat untuk mencoba meningkatkan kapasitas usaha petani tanpa meninggalkan pola tradisional yang selama ini dikerjakan oleh petani Banjarsari. Gayung bersambut, melalui Dinas Perkebunan Kab. Jombang mengusulkan anggaran ke Kementerian Pertanian. Melalui Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementan tahun 2010 memberikan fasilitasi bantuan berupa 1 unit mesin penggiling tebu, alat prosesing gula merah dan bangunan produksi gula merah senilai lebih dari 260 juta. Saat ini petani Banjarsari makin berseri karena mereka sudah memiliki “pabrik kecil” untuk industri kecil gula merah tebu. Kapasitas giling tiap hari rata-rata 6-7 ton tebu yang berasal dari hasil panen anggota kelompok tani Banjarsari. Rendemen sekitar 10-11% gula merah dari tebu yang digiling, sehingga dari rata-rata 6,5 ton tebu yang digiling tiap hari menghasilkan 650 kg gula merah.



Artikel Lain

PERHITUNGAN ANALISA KELAYAKAN USAHA
Penggunaan: UPJA Mesin Perontog (Power Thresher)

Diasumsikan bahwa:

kg/jam
HP
tahun
jam/hari
hari/tahun
per orang
orang
%
kg

1. Biaya Tetap

2. Biaya Tidak Tetap

3. Benefit Cost Ratio

4. Break Event Point
ton/tahun
hektar/tahun
hektar/musim

5. Pay Back Period
tahun
tahun
×