Beranda | Kembali ke halaman sebelumnya

BERITA UTAMA

Ekspor Biji dan Fuli Pala Indonesia Terkendala Aflatoksin
Dikirim 11 Agustus 2012 by Hendrayani Yacub - Dilihat: 1545

 

Ambon/ Ekspor biji  dan fuli pala dari indonesia ke Eropah ditenggarai terkontaminasi bakteri aflatoksin diatas ambang batas kewajaran. Kondisi tersebut mengakibatkan penolakan terhadap impor biji pala dan fulli asal indonesia. Sejak tahun 2009 hingga pertengahan tahun 2012,indonesia telah menerima notifikasi Rapid Alert System on Food and Feed (RASFF)  sebanyak 21 kali karena hasil pengujian terhadap  biji dan fuli pala, memiliki kandungan aflatoksin B1= 6,4 – 120 µg/kg dan aflatoksin total = 10,1 – 140 µg/kg jauh di atas standar kandungan aflatoksin pada pala/nutmeg yang ditetapkan Uni Eropa sebesar 5 µg/kg dan aflatoksin total 10 µg/kg.

Dampak dari kondisi ini juga menyebabkan 20 % produk biji dan fuli  pala  asal indonesia harus melalui pengujian lab sesuai dengan ketentuan dari European Union-Food and Veterinary Office (EU-FVO). Sebelumnya ketentuan hanya 5 % dari produk ekspor yang wajib melalui uji lab.

Hal ini mencuat dalam audiensi Direktur Mutu dan Standardisasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian,Gardjita Budi dengan Sekretaris Daerah Propinsi Maluku N. Ros Far Far beserta jajaran  Dinas Pertanian Propinsi yang diselenggarakan di Kantor  Gubernur Propinsi Maluku pada rabu (8 Agustus).

Menurut Gardjita, “persoalan Pala tidak hanya di on farm  tetapi juga di off farm, diperlukan kerjasama dari semua pihak terkait, karena penyelesaian aflatoksin akan berdampak besar  terhadap pendapatan devisa negara, Gardjita menambahkan, saat ini, sudah teridentifikasi titik sentra potensi berkembangnya aflatoksin,ini sejalan dengan temuan dari tim EU FVO, yaitu mulai dari perlakuan saat panen oleh petani,  ke pedagang pengumpul hingga perlakuan untuk diekspor yang dirasakan masih kurang.

Sebagai  bagian dari  upaya penanganan terpadu. Gardjita mengusulkan perlunya peranan pemerintah daerah melalui  kebijakan  meregistrasi pedagang pengumpul dengan tujuan mata rantai penangan pasca  panen biji dan fuli pala tertangani dengan baik.. “Nantinya, para pedagang  pengumpul  akan dibekali dengan Standard Opearating Procedure (SOP).

Terkait masalah aflatoksin Kepala Dinas Pertanian Propinsi Maluku, Syuryadi Sabirin menyampaikan perlunya  penerapan “grade” terhadap mutu produk, sehingga harga dipasaran terhadap biji dan fuli pala yang perlakuannya melalui  tekhnologi dan Non tekhnologi berbeda. Terkait pembinaan dilapangan, Syuryadi menambahkan, “meskipun Otoritas Kompeten Pangan Daerah (OKKPD) sebagai “filtering”  masih dalam proses Verifikasi , Dinas Pertanian melalui penyuluh pertanian dilapangan tetap menjalankan fungsinya dalam pembinaan maupun transfer tekhnologi ke petani.

Audiensi penyelesaian masalah aflatoksin pada biji dan fuli pala dengan Pemerintah Daerah Propinsi Maluku merupakan yang ketiga. Sebelumnya audiensi sudah dilakukan dengan Pemerintah Daerah Sulawesi Utara dan Maluku utara sebagai penghasil utama pala.(hn/humas)

Berita Utama Lainnya